KANKER paru-paru  merupakan jenis kanker yang paling mematikan di Indonesia, menurut WHO. Meski merokok merupakan penyebab yang tak dapat diperdebatkan lagi dari kanker paru-paru, tidak semua kasus kanker paru-paru terjadi pada perokok atau mantan perokok. 

Sejumlah kondisi telah diidentifikasi akan meningkatkan kesempatan bagi non-perokok untuk terkena kanker paru-paru. Apa saja faktor-faktor yang dapat membuat orang tidak merokok terkena penyakit mematikan tersebut? Hello Sehat akan memberitahu Anda mengenai faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Mari lihat selengkapnya di bawah ini :

1. Gas radon    

Penyebab utama kanker paru bagi non-perokok adalah paparan gas radon, menurut US Environmental Protection Agency (EPA). Gas radon ialah gas yang terjadi secara alamiah yang terbentuk ketika uranium meluruh dan biasanya terjadi secara alami di luar ruangan dalam jumlah yang tidak membahayakan, tetapi hal itu kadang-kadang menjadi terkonsentrasi di rumah yang dibangun di atas tanah dengan endapan uranium alam. 

Studi telah menemukan bahwa risiko kanker paru-paru lebih tinggi pada orang yang tinggal selama bertahun-tahun di sebuah rumah yang terkontaminasi radon.
Mereka yang merokok dan terpapar radon memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan dengan yang tidak merokok terpapar gas radon. Gas radon dapat berjalan melalui tanah dan memasuki rumah melalui celah-celah fondasi, pipa, saluran air, atau bukaan lainnya.

2. Perokok pasif

Perokok pasif atau penghirup asap yang dihasilkan dari perokok lain yang tinggal atau bekerja bersama Anda merupakan faktor risiko untuk munculnya kanker paru-paru. Non-perokok yang tinggal dengan perokok memiliki peningkatan 24% dalam risiko untuk terkena kanker paru-paru bila dibandingkan dengan non-perokok lainnya.

3. Asbes

Ini adalah senyawa yang banyak digunakan di masa lalu, baik sebagai bahan isolasi termal ataupun akustik. Serat mikroskopik asbes terlepas dari bahan isolasi dan terbang melalui udara sehingga mereka dapat terhirup ke dalam paru-paru. 

Serat asbes dapat bertahan seumur hidup di dalam jaringan paru-paru berikut paparan asbes. Kedua jenis kanker, yaitu kanker paru dan tipe kanker yang dikenal sebagai mesothelioma, berkaitan dengan paparan asbes. Merokok dapat meningkatkan kemungkinan munculnya kanker paru yang berhubungan dengan asbes secara drastis. Non-perokok pekerja asbes memiliki risiko kanker lima kali lipat lebih besar dibandingkan dengan non-perokok biasa.

4. Polusi udara

Sudah lama diketahui bahwa kedua polusi udara dalam ruangan maupun luar ruangan menyebabkan kanker paru-paru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2013 mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan sebagai agen penyebab kanker (karsinogen). 

Polusi udara dari kendaraan, industri, dan pembangkit listrik dapat meningkatkan kemungkinan perkembangan paru-paru pada para individu yang terpapar. Para ahli percaya bahwa kontak yang terlalu lama dengan udara yang sangat tercemar dapat membawa risiko perkembangan kanker paru-paru yang mirip dengan perokok pasif.

5. Keturunan

Karena tidak semua perokok berakhir dengan kanker paru-paru, maka ada kemungkinan bahwa faktor-faktor lain, seperti kerentanan genetik individu, mungkin memainkan peran sebagai penyebab kanker paru-paru. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kanker paru-paru lebih mungkin terjadi di kedua individu, baik perokok maupun non-perokok, yang memiliki kerabat penderita kanker paru-paru dibandingkan dengan populasi umum.

6. Mutasi gen

Peneliti belajar lebih banyak tentang apa yang menyebabkan sel-sel berubah menjadi kanker, dan bagaimana sel-sel kanker paru berbeda antara non-perokok dan perokok. Sebagai contoh, sebuah artikel yang diterbitkan di Clinical Cancer Research menjelaskan bahwa jenis mutasi gen tertentu ternyata lebih umum pada kanker paru non-perokok. 

Mutasi ini mengaktifkan gen yang biasanya membantu sel-sel tumbuh dan membelah. Mutasi menyebabkan gen hidup terus menerus, sehingga sel-sel kanker paru-paru tumbuh lebih cepat. Mengetahui perubahan gen dapat menyebabkan sel-sel tumbuh, hal itu membantu peneliti mengembangkan terapi target, yaitu pengobatan yang secara khusus menargetkan mutasi ini. (*)